Kamis, 13 Juni 2013

Indonesia di Pertengahan Tahun 2013


Harapan Untuk Indonesia di Pertengahan Tahun 2013
Angan
Nasib Tua Lumban Gaol
Di jelmaan siang,
aku dibungkus waktu, merenung
bukan jutaan emas atau perak kuingini
harapan sajalah dari Ilahi
semoga rakyat sejahtera di Indonesia
            Asam Kumbang,  Juni 2013
Awal Juni(1)
Setengah tahun 2013 sebentar lagi
kuharapkan damai  kunjung meninggi
seperti pendaki tidak mengenal henti
hingga Ilahi menyucikan pemimpin ini
            Oh, negeri ibu pertiwi...
            Biarlah para pemimpin disadari
            Karena rakyat jadi korban tersakiti
            Semoga kesalahan benar diadili
                        Asam Kumbang, Juni 2013

Awal Juni (2)
Nasib Tua Lumban Gaol
Angin mendesir begitu halus
Membisikkan sejuta kedamain
Sesegar alam indonesia menerus
Bagaikan waktu tiada terhabiskan
            Asam Kumbang, Juni 2013

Awal Juni(3)
Semangat selalu membara
Meskipun perubahan melambat
Tekat merawat negeri selalulah ada
Tetapi perusak negeri juga merambat
            Asam Kumbang, Juni 2013

Melangkah
Nasib Tua Lumban Gaol
Di tengah,
jangan patah semangat
di tengah,
biarpun masih sakit teramat
di awal, di tengah,
dan diakhir jadilah bhagia
ketika berusaha penuh tekat
jayalah Indonesia sejahtera
            Asam Kumbang, Juni 2013
Dipublikasikan Harian Analisa, 12 Juni 2013

Kualitas Pendidikan dan Nilai UN

Kualitas Pendidikan Berdaskan Nilai Palsu --(Harian Analisa, 13 Juni 2013)
Oleh: Nasib Tua Lumban Gaol
Selesailah sudah diumumkan hasil dari pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2013, mulai dari jenjang SMA/SMK, SMP, dan bahkan SD. Hasil pengumuman tersebut membuat kita sangat terkejut! Sepertinya dengan kehadiran nilai hasil Ujian Nasional tahun ini, kualitas pendidikan kita semakin membaik. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian!
Betapa tidak? Untuk pelaksanaan UN SMA tahun pelajaran 2012/2013, jumlah pesertanya 1.581.286 siswa, dan yang lulus 1.573.036 siswa atau 99,48 persen, sedangkan yang tidak lulus hanya 8.260 siswa atau 0,52 persen saja. (metrotvnews.com, 23/05/2013). Selanjutnya berdasarkan pengumuman dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), jumlah peserta Ujian Nasional(UN) pada tingkat SMP/MTs pada tahun pelajaran 2012/2013 mencapai 3.667.241 peserta, sebanyak 3.650.625 atau 99,5 persen dinyatakan lulus. Sementara yang tidak lulus sebanyak 16.616 atau 0,45 persen.(sindonews.com,31/05/2013). Dan untuk jenjang SD pasti di atas 99 persen juga. Hal ini terbukti dari salah satu kota di Indonesia, yaitu Kota Medan, berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kota Medan, disebutkan bahwa tingkat kelulusan Ujian Nasional(UN) Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah di Kota Medan tahun 2013 mencapai 99,99 persen.(http://liputanbisnis.com, 10/06/2013).
Sesungguhnya, kelulusan yang diperoleh para siswa di setiap jenjang pendidikan mulai dari tingkat SD hingga SMA/SMK dengan persentase mencapai 99 persen adalah sebuah pembohongan publik yang “disulap” oleh para pengambil kebijakan –Pemerintah. Dengan data hasil nilai UN, pemerintah bermaksud menutup mata rakyat, walaupun sebenarnya mereka sudah mengetahui bahwa kondisi sarana dan prasarana pendidikan Indonesia sangatlah memprihatinkan. Itu semua dilakukan demi memperkaya diri sendiri dan kelompoknnya saja.
 Kenyataan dari sarana dan prasarana yang memprihatinkan itu sudah jelas dari laporan Mendikbud, Mohammad Nuh, dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR. Yaitu,  88,8 persen sekolah di Indonesia, mulai dari SD hingga SMA/SMK, belum melewati mutu standar pelayanan minimal (SPM): 40,31 persen dari 201.557 sekolah di bawah SPM dan 48,89 persen pada posisi SPM. Hanya 10,15 persen memenuhi standar nasional pendidikan dan 0,65 persen rintisan sekolah bertaraf internasional (Kompas, 23/3/2011).
Oleh karena itu, jika mutu standart pelayanannya hanya memadai sekitar 10,15 persen, bagaimana mungkin bisa siswa dari SD hingga SMA/SMK mencapai kelululusan hingga mencapai 99 persen. Bukankah nilai hasil UN yang diumumkan pemerintah itu adalah sebuah pembohongan publik yang menyengsarakan kehidupan rakyat di masa mendatang?
Nah, sekarang saja kualitas pendidikan kita sudah sangat jauh tertinggal dari negara maju, akibat dari ketidakseriusan pemerintah dalam membenahi sistem pendidikan. Alhasil, pendidikan kita telah gagal melahirkan manusia yang unggul dan berkarakter. Walaupun dengan angka hasil UN yang begitu memuaskan lewat tampilan datanya, namun sesugguhnya kita telah tertinggal jauh dengan negara maju.
Apa yang ditanam, itulah yang akan dituai”. Sebaris kata-kata bijak tersebut sangat tepat menggambarkan bagaimana kondisi Indonesia saat ini. Dan memang, berdasarkan Tabel Liga Global yang diterbitkan oleh Firma Pendidikan Pearson, Sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia. Sedangkan peringkat pertama dan kedua diraih oleh Finlandia dan Korea Selatan. (http://www.bbc.co.uk.07/11/2012) Pendidikan kita sudah sangat jauh tertinggal dengan negara-negara maju. Nah, kalaulah demikian, apakah pemerintah masih lagi sibuk dengan pelaksanaan UN yang hanya menghasilkan nilai palsu?
Nilai Palsu
            Dengan tegas, saya menyimpulkan bahwa nilai hasil UN siswa SMA/SMK hingga SD, sebagian besar adalah nilai palsu atau nilai yang tidak sebenarnya. Artinya, nilai yang diperoleh siswa dari pelaksanaaan UN tidaklah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Nilai para siswa banyak yang “disulap” oleh pihak sekolah atau guru dikarenakan desakan dari Dinas Pendidikan. Sedangkan Dinas Pendidikan didesak oleh pemerintah pusat –rahasia umum kebijakan pemerintah yang memaksakan.
Ketika kebijakan harus dijalankan, para guru hanya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya –kemana saja disuruh harus menurut. Apabila para guru tidak menjalankan kebijakan dari Pemerintah yang turun ke Dinas Pendidikan, dan turun lagi ke Kepala Sekolah, maka ancaman dipecat pun akan “menghantui” pikiran para guru. Sementara dengan keadaan sekarang yang sulit untuk mencari pekerjaan, mau tidak mau, terpaksalah para guru melawan hati nuraninya dengan membantu siswa saat Ujian Nasional. Ini adalah sebuah kenyataan yang begitu memprihatikan di dunia pendidikan kita sekarang. Dan hal ini tidak boleh dibiarkan berlangsung terus menerus.
            Karena dengan adanya pemalsuan nilai, sesungguhnya secara tidak langsung menunjukkan bahwa penghargaan untuk siswa yang berprestasi sangatlah sedikit. Siswa yang belajar dengan rajin hanya mendapatkan nilai 8 dan nilai 9, sedangkan  yang malas belajar nilainya bisa mencapai 7 dan 8, bahkan ada juga mencapai nilai 9. Jelaslah dengan pemberian nilai yang tidak sesuai dengan kemampuan siswa ini mengakibatkan semakin melemahnya semangat juang para siswa untuk mengejar prestasi.
Hemat saya, pemerintah harus menghentikan pelaksanaan UN sebagai alat pengevaluasi kualiatas pendidikan dan penentu kelulusan siswa. Pelaksanaan UN hanya menghasilkan nilai palsu dan mematahkan semangat siswa untuk berprestasi. Akibatnya, banyak siswa yang setelah selesai dari sekolahnya hanya memiliki nilai tinggi, tetapi tidak memiliki kemampuan atau keterampilan. Dengan kata lain proses pendidikan kita hanya menghasilkan manusia palsu –tidak sesuai nilai yang diperoleh dengan kemampuan yang dimiliki.
Oleh karena itu, pemerintah haruslah mengembalikan hak sekolah atau guru untuk menilai siswa dengan sejujur-jujurnya, tanpa ada tekanan. Ketika guru sudah menilai dengan sejujur-jujurnya maka secara otomatis siswa pun akan memiliki kesadaran untuk belajar lebih rajin lagi. Siswa akan mengetahui secara jelas, sudah sejauh mana kemampuan yang dimilikinya lewat penilaian yang diberikan oleh guru. Dengan demikian penilaian dari guru pun berguna sebagai bahan perbaikan untuk siswa supaya bisa meningkatkan prestasinya.
Akhir kata, semoga pemerintah tidak memelihara budaya kepalsuan, yaitu menyuruh guru melawan hati nuraninya dengan membuatkan nilai palsu bagi siswa. Seolah pemerintah sedang mengusahakan perbaikan kualitas pendidikan, namun di balik usah itu hanyalah untuk merampok uang rakyat.*** 

Rabu, 12 Juni 2013

Mengatasi Kemacatan Kota Medan


Kerja Sama, Mengatasi Kemacaten di Kota Medan --Analisa, 23 Juli 2012
Oleh : Nasib Tua Lumban Gaol
Kemacetan yang terjadi di Kota Medan bukanlah salah satu masalah sederhana lagi, karena masalah ini sangat mempengaruhi citra Kota Medan di mata publik. Selain itu, kemacetan yang melanda Kota Medan juga sangat mempengaruhi produktifitas masyarakat dalam beraktifitas. Oleh kerena itu, kemacetan yang ada di Kota Medan haruslah sesegera mungkin diatasi, kalau tidak, Kota ini akan lumpuh dalam pergerakan warganya, baik dalam perekonomian, pendidikan, perpolitikan, dan lain sebagainya.

Berbicara tentang lalu lintas di Kota Medan, saya jadi teringat dengan tulisan di Kolom Opini, Surat Kabar ini satu tahun lalu(Analisa, 23 Mei 2011). Adela Eka Putra Marza adalah penulisnya. Dia menuliskan judul tulisannya, “Solusi Kemacetan; Menggagas Bus Way untuk Kota Medan”. Dalam tulisannya itu, Eka menyarankan supaya di Kota Medan disediakan transportasi massal bagi masyarakat umum, yaitu  Bus Rapid Transit atau yang biasa dikenal dengan Bus Way.

Menurut hemat saya, saran yang disampaikan Eka itu cukup baik untuk mengatasi kemacetan di kota Medan. Namun, Pemko Medan dan Dinas Perhubungan tidak cukup hanya menyediakan Bus Way di Kota Medan tanpa ada pembatasan pemakain kendaraan dari warga Medan. Karena jika tidak ada pembatasan jumlah kendaraan ini, golongan elit akan memiliki kendaraan sebanyak-banyaknya, tanpa menghiraukan kesemrautan jalanan di Kota Medan.
Sementara di sisi lain, rakyat kecil yang tidak memiliki kendaraan pribadi tidak dapat menikmati perjalanannya di Kota Medan, alias menderita kepanasan dan kelelahan di angkot. Kesenjangan inilah yang terjadi di Ibu Kota Sumatera Utara.
 Banyaknya kendaraan di Kota Medan memang bukanlah rahasia umum lagi. Apabila kita melakukan perjalanan mulai dari Pancing menuju Padang Bulan, pastinya kita akan berhadapan dengan ratusan kendaraan di Kota ini, baik angkot, sepeda motor, becak, dan mobil. Dan, memang berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Kota Medan pada tahun 2009, terungkap jumlah kendaraan di Kota ini sudah mencapai 2.708.511 unit. Pertumbuhan yang sangat signifikan terjadi pada jenis kendaraan roda dua (sepeda motor), yakni rata-rata 31,23% per tahun.
Berarti, tanpa ada data dari Dinas Perhubungan saat ini, tahun 2012, kita bisa memprediksikan bahwa jumlah kendaaraan di Kota Medan sudah mencapai 3.000.000 unit. Sungguh jumlah yang “menyakitkan” dengan kondisi jalan di Medan yang begitu sempit, ditambah lagi dengan budaya sembarang berhenti-terobos, dan ketidakteraturan memparkirkan kendaraannya. Kesemuanya itu berakibat pada kemacetan dalam berlalu lintas.
Penyebab Lainnya
            Secara umum, seperti yang saya ceritakan di atas, yang menjadi penyebab kemacetan di Kota Medan adalah karena jumlah kendaraan yang begitu banyak. Memang hal inilah yang sedang melanda jalanaan Kota Medan. Namun, di sisi lain, saya melihat ada faktor lain yang menyebabkan begitu macetnya Kota Medan. Meskipun ini kelihatan kecil, tapi menurut hemat saya faktor ini menjadi “Biang Kerok” yang memperparah kemacetan di Kota Medan.
Faktor pertama adalah budaya tidak disiplin dari masyarakat kota medan. Disiplin warga Kota Medan sangatlah rendah dalam berbagai hal. Salah satunya untuk datang tempat kerja atau ke Sekolah, Kampus, dan Kantor. Yang alhasil mengorbankan jalan umum. Budaya warga Medan yang datang terlambat ini terjadi karena kebiasaan menunda-nunda waktu untuk berangkat dari rumah. Yang aturannya bisa berangkat jam 6 pagi, jadi berangkatnya jam 6.30, padahal jam-jam seperti ini sudah macet.
Tentunya dengan waktu yang sedikit lagi di jalan mengakibatkan para pengendara main terobos saja, yang penting cepat nyampenya di lokasi tujuan. Tidak peduli mau orang lain terganggu atau bahkan akan terjadi kecelakaan. Ketika disiplin tidak ada, jelas akan berpengaruh dalam berlalu lintas. Yang mana, menjadi tidak peduli terhadap rambu-rambu lalu lintas dan orang lain lagi –egois berlalu lintas.
Oleh karena itu, tidak jarang kita jumpai di jalan umum Kota Medan bagaikan jalan yang dilalui oleh orang-orang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan. Padahal, mereka(pengendara kendaraan) sebelumnya sudah mendapatkan SIM(Surat Ijin Mengudi) dari pihak Satuan Lalu Lintas(Satlantas). Di sinilah letak permasalahan berikutnya, apakah pemberian SIM itu hanya formalitas atau hanya uang pelicin saja? Jika ada uang, SIM pun langsung  di tangan, tanpa ada pendidikan dan pengujian kepada calon penerima SIM. Ini haruslah diselidiki dan diselesaikan.
Faktor selanjutnya adalah, kebiasaan Petugas Satlantas yang sering mengabsenkan dirinya pada titik rawan kemaceten, seperti yang terjadi di simpang UNIMED, Pancing. Petugas yang mengatur lalu lintas di jalan ini pun musim-musiman ada. Padahal di simpang segitiga ini belum ada lampu merah, di tambah lagi kesadaran berlalu lintas warga Medan yeng rendah. Akibanya tidak jarang kemacetan terjadi, bahkan pernah kendaraan tidak bisa berjalan sama sekali. Ini adalah salah satu contoh lokasi yang sering diabaikan satlantas, dan tentunya masih banyak lokasi-lokasi lainnya yang mengalami kasus yang sama.
Dengan demikian, sebenarnya solusi untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di Kota Medan perlu ada kerja sama antara warga Kota Medan, petugas lalu lintas, Pemko Medan, dan Dinas Perhubungan. Tanpa ada kerja sama ini maka mustahil akan terwujud Medan yang bebas dari kemacetan.
Buah pikiran dari Saudara Eka, yang menyarankan di Kota Medan itu diadakan Bus Way akan terasa tidak bermanfaat, apabila kita semua(warga Kota Medan, petugas lalu lintas, Pemko Medan, dan Dinas Perhubungan) mengabaikan kerja sama dalam berlalu lintas. Yaitu, yang dalam artian turut ambil bagian dengan mengusahakan agar bisa meminimalis terjadinya kemacetan di jalanan Kota Medan tercinta ini. Semoga!

PUISI UNTUK INDONESIA

KEGELISAHAN
NASIB TUA LUMBAN GAOL
Di tengah malam gelap
Aku melindungi duka negeri pertiwi
Berharap senyum manis membawa terang
Bagaikan lilin kecil kehidupan
Pancing, Februari 2012

LILIN KECIL SUNYI
NASIB TUA LUMBAN GAOL
Kata  mereka terang itu pemisah kegelapan
Aku bangkit menerangi meskipun tulang meremuk
Aku memerangi kedagingan demi perjuangan
Berharap saudara sekalin membawa lilin
            Lilin ku tak akan sesunyi pemakaman
Ketika saudara menerangi kesunyian hidup
Biarlah lilin kita menerangi kejatuhan
Dan kegelapan telah menguasainya
                        Pancing, Februari 2012

MERATAPI
NASIB TUA LUMBAN GAOL
Setiap aku pergi bermalam
Tak satu pun bayangan menghampiri
Seolah raga ini dikurung kesedihan
Berlalu bagaikan malam dijemput pagi
            Dimanakah semua kenangan indah
            Di relung malam yang gelap?
            Di tepi sungai kering?
            Aku hanya bisa meratapi penderitaan
                        Pancing, Februari 2012

MUNGKINKAH
NASIB TUA LUMBAN GAOL
Cerita dan senyum hanyalah mimpi rindu
Kelahiran menghantarkan penderitaan
Namun, kematian bayangan menakutkan
Itukah hidup manusia Indonesia
            Lepaskanlah jiwa dari raga
            Pasti ketakutan mengering
            Bagaikan samudra kehilangan air
            Manusia pun bisa bebas
                        Pancing, Februari 2012
Dipublikasikan Oleh Harian Analisa Medan, 15 Februari 2012

PUISI UNTUK NATAL

PUISI PADA MOMENT NATAl
KELAHIRAN
Nasib Tua Lumban Gaol
Berawal dari kesederhanaan
Tidak dengan bermewahkan berjuta harta
Engkau lahir di kandang domba hina
Betapa rendahnya hati-Mu
            Pancing,  November  2011

NATAL(1)
Nasib Tua Lumban Gaol
Siapa sangka hidup kekal ada lagi
Ketika dosa sebagai candu manusia
Dan harapan sirna akibat murka-Nya
Namun, kelahiran-Mu adalah bukti Kasih abadi-MU yang tak ternilai
                        Pancing,  November  2011

NATAL (2)
Nasib Tua Lumban Gaol
Lilin-lilin kecil menerangi kegelapan hidup
Meskipun begitu gelap kegelapan dunia
Lilin kecil dapat menembusnya
Ternyata hidup tak berarti tanpa Dia yang lahir
Pancing,  November  2011

NATAL (3)
Nasib Tua Lumban Gaol
Ku sadari aku hanya debu
Terlempar dan terlena dalam jurang maut
Sebegitu hinanya aku sebelum Engkau datang
Tapi kasih-Mu telah menebusku
            Kelahihran-MU adalah kehidupan baruku,
            Penderitaan-Mu adalah kesetianku,
            Kematian-Mu adalah keselamatanku,
Dan kebangkitan-Mu adalah pengharapanku
                        Pancing,  November  2011


PERTENGKARAN BATIN
Nasib Tua Lumban Gaol
Menuju malam yang sepi aku bertanya pada bulan
Dia hanya bisa tersenyum dengan kesedihan
Aku bertanya  lagi pada siang gelap
Dia bergembira tanpa ada kesedihan
            Siapakah tempat penyejuk batin ini?
            Aku terjurumus dalam kegelapan
            Gejolak batin seakan-akan mematikan
            Tolonglah aku, tolonglah aku
                        Pancing,  November  2011

Dipublikasikan di Analisa, 28 Desember 2011

PUISI CINTAKU



PUISI : PENCERITAAN CINTA

GADISKU
NASIB TUA LUMBAN GAOL
Melambaikan tanganmu begitu berat
Ketika engkau akan pergi bersama dia
Kurelakan masa depan berubah
Tapi masa lalu akan tertulis indah di hati
            Pancing, Oktober 2012

TINTA CINTA
NASIB TUA LUMBAN GAOL
Mengapa aku melamuni wajah manismu
Ketika malam berubah menjadi hitam
Aku hanya menjadi musafir bayanganmu
Merindukan keindahan yang terukir oleh tinta cinta
            Masa lalu hanya akan menjadi kenangan
            Masa depan akan menghidupkan cinta ini
            Aku butuh tinta cinta darimu
            Engakau memberi kekuatan baruku
                        Pancing, Oktober 2012

AKU SENDIRI
NASIB TUA LUMBAN GAOL
Aku menantikan kehadiranmu
Aku menceritakannya kepada lembaran kertas
Mereka hanya membisu sebagai cerminan
Kegelisahan dan kesendirian pun sulit terobati
            Pancing, Oktober 2012

MALAM SUNYI
NASIB TUA LUMBAN GAOL
Kekosongan kamar begitu membisu
Seolah mendinginkan panasnya hati
Rak buku bercerita sedikit demi sedikit
Jarum jam berjalan dengan pasti
            Ku tatap tembok pemisah waktu
            Semua menjauh dan mengasingkan jiwa
            Bagaikan siang yang ditutupi awan hitam
            Langkah kepastian tetap tertatih-tatih
                        Pancing, Oktober 2012

Dipublikasikan oleh Harian Analisa Medan, 7 November 2012