Kamis, 20 Juni 2013

CERPEN_CITA-CITA SEORANG ANAK KECIL



DANIEGO MENJADI DANI
Oleh: Nasib Tua Lumban Gaol, S.Pd
“Daniego, hentikan kalian permainan sepak bolanya Nak!” Demikianlah setiap hari Ibu Sabar, guru kelas 6 SD mengingatkan Daniego dan temannya supaya tidak bermain bola kaki di pagi hari. Ibu Sabar kuatir, konsentrasi anak-anak dalam belajar bisa tergangu, kerena kelelahan bermain sepak bola.
Pada Sabtu pagi, ketika di sekolah, Kepala Sekolah, Pak Tulus, menghampiri seorang anak perempuan. “Ibu Sabar, hari ini tidak ke sekolah Nak, kerena sakit.” Cerita Pak Tulus kepada Kasih.
 Setelah Pak Tulus pergi ke kantor kepala sekolah, Kasih pun tidak tinggal diam. Kasih langsung berlari ke kelas untuk bercerita kepada teman-temannya. “Kata Pak Tulus teman-teman: Ibu Sabar hari ini tidak ke sekolah kerena sakit.” Mendengar cerita Kasih, teman-temannya pun bersedih. Mereka takut Ibu Kasih sakit parah.
Dari luar kelas, Daniego menguping pembicaraan Kasih dengan teman-taman satu kelasnya. Setelah selesai Kasih menceritakan keadaan Ibu Sabar, tiba-tiba Daniego berteriak sangat keras. “Horeee... Ibu Sabar tidak masuk sekolah hari ini. Berarti, saya dan teman-teman bisa bermain bola kaki dengan sepuas-puasnya dong..! Horeee...”
Kasih dan temannya tidak menghiraukan teriakan Daniego. Mereka tetap melanjutkan pembicaraan mengenai Ibu Sabar. “Bagaimana, kalau pulang sekolah kita pergi melihat Ibu Sabar, teman-teman?” Kasih menanyakan semua temannya, dengan bola matanya berkaca-kaca.
Ketika masuk ke dalam kelas, Daniego mendadak langsung menjawab dengan cetus. “Ngapain kita pergi ke tempat Ibu Sabar? Ibu itu kan, tidak pernah sayang kepada kita, saya dan teman laki-laki lainnya selalu dilarang bermain sepak bola. Kan, ibu itu aneh?”
“Terserah kamu Daniego...!” Kasih menjerit. Kasih tidak mau bertengkar dengan Daniego, karena dalam pemikiran Kasih, bertengkar tidaklah menyelesaikan permasalahan. Kasih yakin, Daniego akan menyesali perkataannya yang tidak menghormati guru.
Daniego meletakkan tasnya. Kemudian mengambil sebuah bola kaki dari tas tersebut. Daniego berlari ke lapangan untuk mengajak teman-temannya bermain sepak bola. Permainan Sepak Bola selalu ada karena Daniego setiap hari membawa bola dari rumahnya. Sehingga, ketika Daniego mengajak temannya bermain bola, semua anak laki-laki satu kelasnya pun langsung bersemangat untuk bermain sepak bola.
“Golll...!” teriak Daniego setelah mencetak satu gol ke gawang lawan bermainnya. Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara “duarrr..”. Ternyata kaca jendela ruang kepala sekolah pecah dibuat bola yang ditendang oleh Daniego.
Kring...Kring...Krinngngngn...! Bel masuk kelas pun berbunyi. Tetapi Daniego dan temannnya yang bermain bola tidak masuk kelas. Mereka masuk ke kantor kepala sekolah dan menghadap Pak Tulus. Tiba-tiba Daniego mengangkat kepalanya, dan mengakui kesalahan yang telah diperbuat kepada Pak Tulus sambil berkata, “Pak, saya minta maaf karena saya telah membuat kaca jendela kantor kepala sekolah menjadi pecah.”
“Sebenarnya, kan, kalian sudah dilarang untuk tidak bermain bola kaki di lingkungan sekolah ini, tetapi, toh juga kalian masih bermain sepak bola. Nah, inilah akibatnya kalau murid tidak taat pada nasehat guru.” Tegas Pak Tulus kepada semua anak yang bermain bola kaki.
 “Ibu Sabar sedang sakit. Apakah kalian sudah tau, Nak? Tanya Pak Tulus dengan tenang. Pak Tulus mengalihkan pembicaraan supaya anak-anak tidak begitu bersedih karena dimarahi.
“Saya sudah tahu Pak. Tadi Kasih bercerita di dalam kelas: Ibu Kasih tidak dapat masuk karena sakit” Daniego menjawab sambil bercampur perasaan menyesal. Dia berpikir, seandainya tadi saya membicarakan tentang kunjungan kami ke rumah Ibu Sabar, pasti kaca jendela kantor kepala sekolah tidak akan pecah. Yah, memang inilah akibat ego atau mementingkan diri sendiri.
“Baiklah kalau kalian sudah tahu. Nah, Bapak tidak mau lagi melihat kalian bermain sepak bola. Dengarkan Nak..?” Anak pun menjawab dengan gugup, “Dengar Pak”. “Baiklah kalau begitu, hari ini Bapak memaafkan kalian, tetapi kalau kalian melakukan hal ini lagi, kalian akan dipecat dari sekolah, karena tidak menaati nasehat guru.” Pak Tulus membuat janji kepada anak-anak.
Daniego, dan teman-temannya pun berjalan menuju kelas. Daniego hanya menundukkan kepalanya ketika berjalan ke dalam kelas. Daniego sangat menyesali perbuatan yang dilakukannya. Setiba di kelas, Daniego hanya terdiam.
 Kasih dan teman perempuannya yang di kelas bergeser ke tempat duduknya masing-masing. Pak Tulus pun sudah masuk ke dalam kelas dan akan memulai pelajaran Matematika.
Namun, karena Daniego telah membuat kaca jendela kantor kepala sekolah pecah, pelajaran matematika pun ditiadakan Pak Tulus. “Kalian itu nak, dipercayakan orang tuamu di sekolah ini untuk dididik oleh guru. Guru adalah orang tua kalian di sekolah ini. Nasehat guru atau orang tua itu haruslah kalian patuhi, kalau tidak, kalian akan mendapat akibat yang tidak baik.”
Pak Tulus melanjutkan nasehatnya , “Daniego adalah contohnya Nak.! Karena dia tidak mematuhi nasehat guru selama ini, dia terus bermain bola, hingga akhirnya kaca jendela kantor kepala sekolah pun pecah. Bapak berharap, di sekolah dan di rumah kalian haruslah selalu mentaati nasehat guru dan orang tua.”
Setelah Pak Tulus menasehati anak-anak begitu lama, bel pulang pun berbunyi. Kringg..nggg...! Anak-anak pun menyimpan buku dan alat tulisnya. “Okeh, nak kita akan pulang sekarang. Tapi, sebelumnya mari kita berdoa, dan jangan lupa ya mendoakan Ibu Sabar. Semoga Ibu Sabar cepat sembuh.” Pesan Pak Tulus. Setelah berdoa, anak-anak langsung keluar dari ruang kelas dengan tertib sambil menyalami Pak Tulus.
Ketika Daniego telah tiba di rumah. Daniego terdiam. Orang tuanya bingung melihat Daniego. “Kenapa kamu diam nak?” Tanya Ayah Daniego. “Pak, saya tadi bermain sepak bola dengan teman-teman di sekolah. Saya membuat kaca jendela kepala sekolah pecah. Dan kalau saya bermain sepak bola lagi di sekolah, maka saya akan di pecat Pak.” Daniego menjawab pertanyaan ayahnya.
 “Saya sangat suka bermain sepak bola Pak. Bagaimana ini Pak?” Lanjut Daniego bertanya dengan sangat sedih kepada ayahnya.
“Daniego, memang betul yang dikatakan oleh gurumu itu Nak. Ya sudah begini saja, Daniego masuk sekolah sepak bola saja! Di sana kemampuan bermain sepak bolamu akan semakin baik lagi apabila kamu tekun berlatih.” Dengan senang hati Daniego pun menjawab, “Iya Pak, saya mau.”
Di sekolah sepak bola itu, Daniego berlatih dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya, Daniego menjadi pemain sepak bola terbaik di Indonesia pada usia 12 tahun.
Daniego sadar bahwa kemampuannya yang baik dalam bermain sepak bola adalah karena kepatuhannya kepada nasehat guru dan orang tua. Daniego pun menjumpai Pak Tulus di kantor kepala sekolah. “Pak, saya telah menjadi pemain bola terbaik di Indonesia pada usia saya ini. Nasehat Bapak dan Ibu guru, dan juga orang tualah yang membuat saya memperoleh cita-cita, yaitu pemain bola terbaik.” Cerita Daniego dengan bahagia.
 Daniego melanjutkan perkataannya, “Pak saya mau meminta sesuatu kepada Bapak.” Pak Tulus pun menjawab, “apa yang bisa Bapak bantu nak?”  Daniego pun merasa bangga karena ada tanggapan dari Pak Tulus. Kemudian Daniego berkata, “Pak saya meminta tolon supaya Bapak mengganti nama saya.”  Sebelumnya, Daniego telah diberi ijin oleh kedua orang tuanya untuk mengganti namanya.
Hehehe... Dengan merasa bangga Pak Tulus menjawab, “baguslah Nak. Kami semua guru sangat bangga kepadamu. Untuk namamu tunggu sebentar ya nak..!”
Pak Tulus berdiskusi dengan Ibu Sabar selama sepuluh menit. Akhirnya, Pak Tulus mengurangi nama Daniego menjadi Dani. “Namamu jadi Dani, saja ya nak. Artinya kami gurumu telah berhasil menghilangkan egomu.” Jawab Pak Tulus kepada daniego. Memang ego atau mementingkan diri sendiri tidaklah akan membuat seseorang menjadi berhasil.
Lanjut Pak Tulus, “Semoga kamu menjadi pemain bola terbaik di dunia ya nakku...!
Akhirnya setelah mendengar penjelasan dari Pak Tulus, Dani pun merasa bangga dengan nama barunya. Dani menjadi anak baik dan selalu taat terhadap nasehat guru dan orang tuanya.